Kemercik air masih terdengar
jelas, ketika tetes-tetes air menjatuhi genangan. Sodetan-sodetan sungai mulai
terlihat basah. Air memang tak pandang bulu, setiap sungai pasti basah olehnya.
Batu-batu mulai memancarkan kesegaran, alur air mulai terlihat jelas. Ikan-ikanpun
mulai bergeliat penuh semangat, serta udang-udang kecil yang menyelinap malu-malu.
Adzan Asar terlantun merdu.
Melantun di setiap penjuru desa. Para petani mulai bersiap kembali ke sawah.
Sementara bocah-bocah hendak pulang ke rumah. Dibawanya plastik berisi ikan
kecil hasil memancing siang itu. Lelah sudah mereka menyusuri sungai-sungai.
Kali ini bukan kumandan adzan
yang terdengar, sekelumit adalah suara bocah yang berada di balik microphone. Mereka berceletuk untuk membuat semarak
masjid. Ya, pengajian TKA/TPA akan segera dilaksanakan. Masjid ditengah desa
randu gumbala, menyajikan pengajian untuk anak-anak. Sontak anak-anak bergegas.
“Pak, sangune endi?” ucap
Dede
“Lah arep nendi cah bagus, kan wes disanguni ibumu isuk mau.” Jawab Sapto
“Wah bapak ki, wes nganggo klambi cakep ngene kok ora ngerti arep nendi”
sahut Dede
“Nyoh duite Le, ojo kanggo tuku mercon” Jawab Sapto sambil berlalu
Daun salak berwarna hijau mulai
memudar. Satu per satu daun bersandar tak berdaya. Ketika, durinya tak berguna
lagi, lemas dan tumpul. Buah salak tak satupun saling menggandeng satu sama
lain, berjatuhan dan tak tertemukan adanya. Kini ladang salak mulai tergusur
dengan potongan-potongan batu yang hendak menjadi guratan bangunan kokoh.
Akar-akar salak yang kokoh tak berguna lagi dan dibakar untuk menghilangkan
jejaknya.
***
Sore itu, Kang Ukar berduyun
dengan rerumputan di motornya. Rerumputan hijau Ia talikan dengan tali plastik.
Motornya berwarna biru-silver mulai merasakan beban yang sangat berat. Bahkan
ban motornya terlihat mengerang karena berat rerumputan. Tak peduli apa yang
terjadi dengan motornya, Kang Ukar terus membawa rerumputan itu menuju
kandangnya.
“Toni uwes le dolanan, kono TPA galo wes ono pengumuman seko masjid”
cetus Mbak Sri sambil membawa air untuk ternaknya.
“Kae wes ditunggu Ririn” timpal Kang Ukar menambahi ucapan istrinya.
“Kae delok Dede wae wes menyang ngepit” imbuh Mbak Sri menunjuk Dede
dari kejauhan
Roda sepeda mulai menjalur dengan
tenang, menyapa setiap balok blok yang tertata di jalan. Kaki Dede tak lelah
mengayuh setelah seharian berjalan mencari ikan. Bunyi kreyot sepeda mengiringi roda belakang sepedanya. Terlihat sepeda
itu tidak ada rem, hanya sandal yang ia gunakan menjadi alas rem.
“Lah, ijeh sepi to” ujar Dede
> Like Facebook : Desa Wisata Randu Gumbala
> Follow twitter : @randugumbala
> Langganan Youtube : Randu Gumbala
> Like Facebook : Desa Wisata Randu Gumbala
> Follow twitter : @randugumbala
> Langganan Youtube : Randu Gumbala
Komentar