Pinggir Ledhok

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Pinggir Ledhok

Saturday, August 6, 2016

Oleh Danik Sulistyorini

Kemercik air masih terdengar jelas, ketika tetes-tetes air menjatuhi genangan. Sodetan-sodetan sungai mulai terlihat basah. Air memang tak pandang bulu, setiap sungai pasti basah olehnya. Batu-batu mulai memancarkan kesegaran, alur air mulai terlihat jelas. Ikan-ikanpun mulai bergeliat penuh semangat, serta udang-udang kecil yang menyelinap malu-malu.

Adzan Asar terlantun merdu. Melantun di setiap penjuru desa. Para petani mulai bersiap kembali ke sawah. Sementara bocah-bocah hendak pulang ke rumah. Dibawanya plastik berisi ikan kecil hasil memancing siang itu. Lelah sudah mereka menyusuri sungai-sungai.

Kali ini bukan kumandan adzan yang terdengar, sekelumit adalah suara bocah yang berada di balik microphone.  Mereka berceletuk untuk membuat semarak masjid. Ya, pengajian TKA/TPA akan segera dilaksanakan. Masjid ditengah desa randu gumbala, menyajikan pengajian untuk anak-anak. Sontak anak-anak bergegas.

Pak, sangune endi?” ucap Dede
Lah arep nendi cah bagus, kan wes disanguni ibumu isuk mau.” Jawab Sapto
Wah bapak ki, wes nganggo klambi cakep ngene kok ora ngerti arep nendi” sahut Dede
Nyoh duite Le, ojo kanggo tuku mercon” Jawab Sapto sambil berlalu

Daun salak berwarna hijau mulai memudar. Satu per satu daun bersandar tak berdaya. Ketika, durinya tak berguna lagi, lemas dan tumpul. Buah salak tak satupun saling menggandeng satu sama lain, berjatuhan dan tak tertemukan adanya. Kini ladang salak mulai tergusur dengan potongan-potongan batu yang hendak menjadi guratan bangunan kokoh. Akar-akar salak yang kokoh tak berguna lagi dan dibakar untuk menghilangkan jejaknya.
***
Sore itu, Kang Ukar berduyun dengan rerumputan di motornya. Rerumputan hijau Ia talikan dengan tali plastik. Motornya berwarna biru-silver mulai merasakan beban yang sangat berat. Bahkan ban motornya terlihat mengerang karena berat rerumputan. Tak peduli apa yang terjadi dengan motornya, Kang Ukar terus membawa rerumputan itu menuju kandangnya.

Toni uwes le dolanan, kono TPA galo wes ono pengumuman seko masjid” cetus Mbak Sri sambil membawa air untuk ternaknya.
Kae wes ditunggu Ririn” timpal Kang Ukar menambahi ucapan istrinya.
Kae delok Dede wae wes menyang ngepit” imbuh Mbak Sri menunjuk Dede dari kejauhan

Roda sepeda mulai menjalur dengan tenang, menyapa setiap balok blok yang tertata di jalan. Kaki Dede tak lelah mengayuh setelah seharian berjalan mencari ikan. Bunyi kreyot sepeda mengiringi roda belakang sepedanya. Terlihat sepeda itu tidak ada rem, hanya sandal yang ia gunakan menjadi alas rem.


Lah, ijeh sepi to” ujar Dede

> Like Facebook : Desa Wisata Randu Gumbala
> Follow twitter : @randugumbala
> Langganan Youtube : Randu Gumbala