www.randugumbala.blogspot.com | Sabtu (16/07/2016), bertempat di Serambi Masjid At Taqwa Kawedan, sebagian besar masyarakat Padukuhan Kawedan berkumpul dalam rangka 'Syawalan Padukuhan Kawedan'.
"Acara tahunan kali ini digelar di masjid, dan tahun yang akan datang akan digelar di rumah Kepala Dusun Kawedan," begitu Kata Bapak Drs. H. Panggih Hadi Murwanto, selaku Ketua Takmir Masjid At Taqwa Kawedan. "Acara seperti ini sudah berjalan puluhan tahun di padukuhan kita." Lanjut Beliau.
Syawalan Padukuhan Kawedan ini memang acara tahunan, sesuai kesepakatan tokoh masyarakat, penyelenggaraannya dilaksanakan selang seling, tahun ini diselenggarakan oleh takmir masjid dan tahun yang akan datang di rumah kadus.
Ikrar syawalan disampaikan oleh Bapak Purnomo, S.Pd.I. dan ditirukan oleh seluruh jamaah yang hadir dilanjutkan dengan berjabat tangan, jamaah putra dengan putra dan jamaah putri dengan putri. Diharapkan setelah ini lebur dosa-dosa masyarakat Kawedan.
Syawalan di tahun 2016 M/1437 H kali ini menghadirkan Ustadz Nurul Amri, S.Ag. Beliau adalah Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Turi.
Dalam ceramah yang disampaikan dalam bahasa jawa medok ini, Beliau mengawali sebuah pertanyaan kepada para jamaah, "Yang sulit itu meminta maaf atau memberi maaf?" Tanya Ustadz Nurul Amri, kepada jamaah. Beberapa jamaah menjawab, "Memberi maaaf...."
Lalu beberapa saat Beliau menyampaikan, "Pada dasarnya yang lebih berat itu meminta maaf," katanya. Terlihat para jamaah ada raut muka kaget, karena tidak biasanya ada orang yang mengatakan seperti ini. "Kenapa? Karena meminta maaf itu orang mengakui kesalahannya dan mengakui sebuah kesalahan itu berat." Begitu alasan Beliau. Kali ini terlihat beberapa jamaah manggut-manggut pertanda setuju dengan Beliau. "Tapi memberi maafpun tidak kalah sulit." Akhirnya Beliau mengatakan seperti itu.
"Walaupun bulan Ramadhan telah pergi tapi hati, lisan, kaki, tangan, telinga, mata kita harus tetap berpuasa dari hal-hal keburukan," pesan Ustadz Nurul Amri. "Jika saat puasa masjid ramai dan setelah puasa tetap ramai, maka itu bertanda puasanya membekas," lanjut Beliau. "Namun jika sebaliknya, saat puasa masjid ramai dan setelahnya berbondong-bondong meninggalkannya alias sepi, itu bertanda puasanya tidak membekas." Kata Beliau.
Syawalan Padukuhan Kawedan ini dihadiri oleh seluruh warga, baik muslim maupun non muslim.
Ingin melihat beberapa foto syawalan silahkan like facebook Masjid At Taqwa Kawedan
Jangan lupa like juga facebook Desa Wisata Randu Gumbala
Rep. TMT
.png)
Komentar


