Oleh: Ananto Ardhi Prabowo, S.Pd.
Daerah Istimewa
Yogyakarta memiliki beberapa desa-desa yang berpotensi dikembangkan menjadi desa wisata. Desa-desa tersebut memiliki beberapa potensi antara lain potensi alam, adat istiadat serta kebudayaan lokal. Desa wisata memerlukan masyarakat dalam penyelengaraannya. Keterlibatan masyarakat sangat berpengaruh dalam pengembangan desa wisata.
Desa wisata harus memperhatikan faktor pendukung
(Robot, 2001: 4), faktor tersebut antara lain sarana transportasi, akomodasi, konsumsi, atau cinderamata. Selain faktor tersebut,
peran masyarakat dalam meningkatkan potensi desa wisata sangat penting. Jika hal tersebut terpenuhi, maka desa wisata yang representatif untuk wisatawan dapat terwujud.
Memberdayakan Desa Wisata dapat melalui aspek internal
maupun aspek eksternal. Aspek internal antara lain:
1. Paket Wisata
Desa wisata harus memiliki keunggulan yang tidak ditemukan di daerah lain. Keunggulan desa wisata dapat bermacam-macam,
seperti potensi alam, kesenian budaya dan tempat sejarah. Keunggulan tersebut harus selalu dijaga, karena wisatawan akan tertarik dengan keunggulan desa.
Desa wisata Kawedan menyuguhkan sebuah wisata bernama Randu Gumbala, selain itu ada juga kesenian macapat, menyusuri sungai dan belik (mata air) dan kesenian rampak buta.
Desa wisata Kawedan menyuguhkan sebuah wisata bernama Randu Gumbala, selain itu ada juga kesenian macapat, menyusuri sungai dan belik (mata air) dan kesenian rampak buta.
2.
Profesionalitas
a.
Pelayanan setiap tamu wisatawan untuk menikmati paket wisata yang
ditawarkan. Pelayanan tersebut menjadi salah satu kunci wisatawan untuk menikmati kembali paket wisata. Pelayanan yang memuaskan tentunya akan membawa wisatawan yang
lebih banyak lagi, dan tentu saja menjadikan pemasukan desa. Masyarakat dituntut untuk memberikan pelayanan yang
maksimal kepada wisatawan.
b.
Organisasi
Organisasi sangat penting dalam meningkatkan kinerja desa wisata. Organisasi yaitu wadah untuk memaksimalkan paket wisata yang
ada, dan mengupayakan peran serta masyarakat demi tercapainya desa wisata yang mandiri.
1)
Ketua
Ketua dalam hal ini merupakan ujung tombak berjalannya desa wisata. Fungsi ketua dapat juga
sebagai promotor dan inovator.
2)
Pemandu wisata
Masyarakat harus menjadi pemandu wisata yang
handal. Kemampuan berbahasa merupakan kunci dalam memandu wisatawan. Masyarakat harus dapat berbahasa
Indonesia maupun Bahasa asing. Namun dalam pengunaan Bahasa asing tidak serta merta dilaksanakan,
sesuai dengan tujuan dan capaian hasil desa wisata tersebut.
3)
Peran Ibu-ibu/konsumsi
Peran Ibu-ibu tidak dapat diabaikan,Ibu-ibu melalui karya tangan-tangan mereka dapat dihasilkan sebuah produk konsumsi yang
bercirikan masakan daerah. Bahan dalam pembuatannya dapat dicari dari lingkungan sekitar seperti masakan dari ketela, jagung, dll. Selain mudah didapat,
masakan-masakan dari lingkungan sekitar juga kaya vitamin karena tidak mengandung bahan pengawet.
4)
Parkir
Mobil-mobil yang tertata, motor-motor
yang mudah dipindahkan, serta sirkulasi arus lalulintas yang lancer semua adalah peran dari petugas parkir. Petugas parker tidak dapat melakukan tugasnya dengan maksimal jika tidak tercukupinya lahan parkir.
Lahan parker membutuhkan
area yang luas, sementara di desa Kawedan area yang luas sulit dijumpai. Namun, tetap perlu adanya solusi untuk menyediakan lahan parkir. Parkir bukan suatu hal yang
sepela harus ditata agar semua pihak dapat mendukung ketertiban umum.
5)
Sarana penunjang lain
Fasilitas merupakan hal penunjang dalam mengelola tempat wisata.
Pembangunan fasilitas dalam jangka panjang dapat menambah tempat seperti homestay, taman bermain terbuka, dll. Dalam jangka pendek dapat berupa pengelolaan kebersihan tempat wisata. Hal ini penting,
karena kebersihan adalah syarat mutlak untuk membuat kenyamanan wisatawan.
3.
Pemeliharaan Alam
Alam merupakan pemberian Tuhan Yang
Maha Esa. Alam memberikan manusia segala kehidupan. Kebutuhan manusia semua berasal dari alam semesta. Desa wisata Randu Gumbala merupakan desa wisata yang tujuan utama pariwisata yaitu tentang alam. Pemeliharaan alam di sekitar Randu Gumbala harus dijaga,
kerusakan ekosistem di sekitar Randu Gumbala akan mengakibatkan kerusakan lingkungan Randu Gumbala sendiri.
Aspek eksternal antara lain:
1.
Pembinaan
Pemberdayaan masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam melestarikan maupun mengelola desa wisata dapat diwujudkan dengan kerjasama semua masyarakat. Masyarakat merupakan penunjang dalam menyiapkan desa wisata yang profesional. Masyarakat yang mempunyai hajatan tentang desa wisata.
Pembinaan terhadap masyarakat sangat diperlukan untuk menjadi pengelola desa wisata yang profesional. Kerjasama dengan berbagai pihak sangat membantu untuk terciptanya desa wisata yang
profesional. Kerjasama yang saling menguntungkan mulai dari pemerintah maupun swasta.
Selain pembinaan, keinginan dari masyarakat untuk berkembang sangat diperlukan. Masyarakat harus mampu untuk mengembangkan potensi yang
dimiliki, dan kemandirian masyarakat sangat diperlukan. Semua elemen masyarakat harus dapat saling berkaitan untuk menjadikan desa wisata yang profesional.
2. Dukungan Pemerintah
Dukungan Pemerintah sangat diperlukan, tetapi tidak harus meminta karena masyarakat harus dapat mandiri. Pemerintah melalui dinas kebudayaan maupun dinas terkait dapat membantu dari segi pendanaan,
pembinaan, maupun promosi.
Di sini dapat bersentuhan langsung dengan alam. Masyarakat
yang selalur amah. Kerajinan tangan yang menarik, dapat menjadi souvenir. Mari wujudkan Kawedan sebagai salah satu tujuan wisata di Sleman.
Penulis: Ananto Ardhi Prabowo, S.Pd., sedang
menempuh jenjang S2 di Universitas Negeri Yogyakarta
.png)
Komentar