Oleh : Danik Sulistyorini
Sore itu matahari masih sedikit mengintip di balik perdu
daun-daun. Menyibakkan rona warna jingga yang mempesona. Sang angin masih beradu dengan batang-batang pohon yang kekar perkasa. Sang angin memperkaya suasana dengan sedikit semilirnya. Ketika, pohon mahoni mendesah bergelimpung, terdapat membumbuh suara kayu tersayat angin. Daun salak tak terkira ketika angin menyibaknya, dia hanya pasrah tergontai. Pelepah-pelepahnya menyisir dan tak mampu terdiam. Berjatuhan dengan membawa sedikit duri yang masih lugu disekelilingnya. Tidak ada yang sanggup terdiam dengan hembusan angin. Matahari memperhatikan dengan seksama dan tak mampu menyentuhnya.
Masjid itu masih ramai dengan jejak-jejak kecil pelari riang. Tiada sudut yang terjamahnya, bahkan bedug
yang berada di sudut, sering terperangah dengan polah mereka. Tak kalah risau dan kagum tergerus dalam benak orang tua yang
menunggui anaknya. Di bawah plakat masjid “At-Taqwa” penerus bangsa ini belajar Iqro’ maupun Al-Quran. Ditanamkan rukun Islam dan rukun Iman oleh Ustad di masjid itu. Seragam yang terlihat masih cerah, dengan corak yang masih tebal sesuai dengan semangat mereka. Kadang mereka bernyanyi-nyanyi melepas waktu menunggu adzan Maghrib tiba.
“Ayo kita makan takjil” cetus Dede sambil membawa bungkusan takjil di tangan kanannya.
“Adik-adik belum adzan, tunggu adzan dulu ya!” Jawab Ustadzah Arum sambil tersenyum.
***
Ketika obor menyala dengan api yang mulai menyentuh setiap sumbu. Berhias warna-warni dengan kertas menempel di tiap oncor. Api menyulut dengan lembut minyak tanah yang berada di dalam corong bambu. Tanpa ragu api menengadah menadai setia poncor di pegang bocah. Inilah takbir kemenangan dari anak-anak yang bergema di
sudut-sudut desa.
Tak ada bintik keraguan dalam diri anak-anak untuk melafalkan Asma Allah SWT. Mereka menyerukan takbir bersama oncor-oncor yang mereka pegang. Lengkap dengan atribut-atribut islami yang mendandani mereka. Kreatifitas anak-anak Kawedan yang telah terjalin sejak zaman dulu yang terus dijalankan. Lupakan rasa gundah gulana, karena hari ini adalah hari kemenangan. Hari yang ditunggu oleh umat Islam.
Padam lampu menyelimuti desa itu. Gelap. Tiada cahaya yang mampu menyulutkan. Setiap jalan tengah desa itu begitu kelam. Memang, cahaya lampu neon dimatikan. Pengeras suara masjid yang memandu cahaya lampu untuk dimatikan.
“Di matikan pak televisinya” seru Simbok Budi.
“Ya” jawab Pak Budi dengan diiringi langkah gontai menurutinya
“Ayo Pak, lihat takbiran” ajak Simbok Budi
Adzan Isya’ telah berkumandang, terdengar di seluruh penjuru desa. Lantunan penanda shalat akan dilaksanakan.
Berduyun-duyun orang-orang menuju masjid. Tiada lagi shalat Tarawih, berganti dengan lantunan takbir yang terus berdengung kencang.
Meski bunyi mercon mengelembungkan denyutan suara keras. Membantarkan dada para
tetangga. Meskipun bau misiu mercon tercium sengat. Meskipun serakan kertas berhamburan di antara aspal jalan. Kembang api seakan tak mau kalah, berbunga-bunga di angkasa, mendayu dalam guritan cahaya.
Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar..
Laaillahailallahuwallahuakbarallahuakbarwalillahilham…
.png)
Komentar